Kamis, 24 Oktober 2019



Sajak Ruang Gelita

Dalam ruang hampa bernama gelita
Gelita ciptakan kobar api penuh bara
Entahlah definisi bara asmara
Ataupun bara api pembakar semangat raga
Raga para makhluk yang serentak menghentak tapak
Melalui berjuta nostalgia
Melalui seribu tatap temu sebagai tanda
Melalui seribu tegaknya raga yang sudah payah adanya
Namun anehnya, para makhluk ini masih setia jua

Dalam khusyuknya gelita yang tadangkan doa bersama angin yang berhembus syahdu,
Mereka layangkan hadiah berupa cita yang membuat rindu
Rindu yang tengah bercumbu mesra dengan cinta yang dirakit dalam kalbu
Yah. Begitulah definisi kita. Satu, tetap satu.

Dalam cerah, remang nan gelap kita tapak
Menjunjung solidaritas yang kian kompak
Meski cinta hampir tak pernah nampak

Tanpa sadar, tatap-temu menciptakan  gelora, euforia nan ceria
Tanpa sadar, gelak-tawa menciptakan rasa letih bercampur bahagia

Dengan segala tingkah konyol, hawa malas dan sukar bertemu sekalipun
Kata setia akan selalu menjiwa meski berbeda minda nan raga
Benarkan demikian sobat?

Dalam ruang gelita
Meski susah payah membawanya
Meski terjerumus dalam lembah nestapa
Tak ayal, kita junjung jua segalanya
Segala beban, hambatan dalam kesakitan

Kesakitan?
Benarkah kesakitan?

Ini belum apa-apa sobat!
Ini belum seberapa sahabat!

Lihat!
Bandingkan betapa riuh, ricuh dan kukuh keadaan umat mahasiswa di luar sana
Yang sedang teguh memberi masukan-tujuan
meski tahu bahwa keluaran akan sulit didapatkan
Mempertahankan asas kemanusiaan di atas rekayasa keadilan
Memikul segala resiko kegagalan yang berdampak penindasan
Ditambah, betapa mengesankan keviralan perjuangan yang disiarkan
Meski tak sesuai dengan hasil yang didapatkan

Sedang kita? Keluh, kesah, gelisah yang membekas
Hanya karena berpuluh-puluh tugas yang tegas lugas dan  tak mungkin menindas

Tenanglah sobat!
Rahasia kebaikan pasti akan kita dapatkan di balik ketidaksetujuan
Bukan hanya serta merta definisi dari ospek jurusan
Namun juga sebagai bentuk kesiap-siagaan dari segala bentuk kesakitan

Anggaplah saja kita sedang menabung
Tak tahu seberapa jumlah nominal harta yang tergabung
Karena yang kita tahu, hanyalah menampung, lalu kemudian beruntung

Purwokerto, 05 Oktober 2019
Vi Bauty Riska Utami

Puisi di atas merupakan puisi yang saya buat kedua kalinya dan ditampilkan kedua kalinya di rangkaian acara Protel 4.0, 5 Oktober 2019. Bahkan saya, si pembuat puisi belum pernah membacakan puisi di depan umum, namun sudah tiga orang yang membacakan puisi saya dengan lantang dan bagus. Pada puisi "Sajak Ruang Gelita" ini, saya buat atas saran dari kawan seperjuangan saya, Dimas Fasqi Fahrezi yang pada postingan puisi sebelumnya telah saya kenalkan. "Sajak Ruang Gelita" ini dibacakan oleh adik/peserta Protel 4.0 kami, yakni Luqi (foto sebelah kanan) dan Albilah(foto sebelah kiri). Puisi tersebut khusus saya buat untuk ditampilkan di Malam Keakraban Protel 4.0, tepatnya saat api unggun. Karena perasaan peserta Protel 4.0 yang lelah ditimpa banyak tugas serta pembacaan puisi di malam hari tanpa ruangan, jadilah puisi saya yang berjudul "Sajak Ruang Gelita". Puisi tersebut saya buat demi untuk menyemangati adik-adik peserta Protel 4.0 dengan cara pembacaan lantang dari Luqi dan Albilah itu sendiri. Semoga Anda sebagai pembaca akan terhibur dan masuk ke dalam perasaan adik-adik mahasiswa baru 2019 yang sedang beradaptasi untuk menuntut ilmu. Nantikan postingan saya selanjutnya..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Luka dan Desember (Vi Bauty Riska Utami) Belum terasa bagiku bahwa pergantian tahun akan membahagiakan Nyatanya pikiran penuh li...